Hasil Penelitian Terbaru tentang Bekam: Apa Kaitannya dengan Peradangan?

·

·

Hasil penelitian terbaru tentang bekam dan peradangan

Selama ini bekam lebih sering dikenal masyarakat sebagai terapi yang digunakan ketika tubuh terasa pegal, kaku, nyeri, atau tidak nyaman. Namun, perkembangan penelitian mengenai bekam mulai membawa pembahasan ke arah yang lebih menarik: apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh setelah terapi wet cupping?

Salah satu bidang yang mulai diteliti adalah hubungannya dengan respons inflamasi atau peradangan.

Peradangan sebenarnya merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh. Ketika tubuh menghadapi cedera, infeksi, atau gangguan tertentu, sistem imun akan mengaktifkan berbagai mekanisme untuk merespons kondisi tersebut. Dalam proses ini, tubuh menggunakan berbagai molekul komunikasi yang disebut sitokin.

Beberapa sitokin yang banyak dipelajari dalam penelitian inflamasi antara lain TNF-α, IL-1β, dan IL-6.

Menariknya, ketiga biomarker tersebut menjadi salah satu fokus dalam sebuah systematic review dan meta-analysis mengenai wet cupping.

Penelitian yang Menarik Perhatian

Pada Desember 2024, Zhai dan rekan-rekannya menerbitkan systematic review dan meta-analysis berjudul Efficacy and safety of wet cupping in the treatment of neurodermatitis: a systematic review and meta-analysis di jurnal Frontiers in Medicine.

Penelitian ini secara khusus mengevaluasi penggunaan wet cupping pada neurodermatitis, yang juga dikenal sebagai lichen simplex chronicus, yaitu kondisi kulit kronis yang dapat ditandai dengan rasa gatal dan penebalan kulit.

Para peneliti melakukan pencarian terhadap berbagai database ilmiah dan memasukkan 19 penelitian randomized controlled trial (RCT) dengan total 1.505 peserta.

Yang menarik, penelitian tersebut tidak hanya melihat apakah kondisi kulit membaik secara klinis. Para peneliti juga menganalisis beberapa faktor inflamasi yang dapat diukur.

Di sinilah pembahasan menjadi lebih menarik.

TNF-α, IL-1β, dan IL-6

Dalam tubuh, sitokin berfungsi seperti molekul pembawa pesan antar sel.

TNF-α (Tumor Necrosis Factor-alpha) merupakan salah satu mediator penting dalam respons inflamasi.

IL-1β (Interleukin-1 beta) juga berperan dalam mengaktifkan dan mengatur respons inflamasi.

Sementara itu, IL-6 (Interleukin-6) merupakan sitokin yang memiliki berbagai fungsi dalam respons imun dan inflamasi.

Ketiganya bukan berarti “racun” yang harus dikeluarkan dari tubuh. Sebaliknya, mereka merupakan bagian dari sistem biologis normal yang diperlukan tubuh. Masalah dapat muncul ketika regulasi respons inflamasi mengalami gangguan atau berlangsung secara berlebihan dalam kondisi tertentu.

Karena itu, perubahan kadar biomarker tersebut dapat menjadi salah satu cara peneliti mempelajari bagaimana suatu intervensi mungkin memengaruhi respons biologis tubuh.

Apa yang Ditemukan?

Dalam meta-analysis tersebut, kelompok yang mendapatkan wet cupping, baik sebagai terapi tersendiri maupun dalam kombinasi tertentu, menunjukkan kadar beberapa biomarker inflamasi yang lebih rendah dibandingkan kelompok pembanding yang mendapatkan pengobatan.

Untuk TNF-α, analisis melibatkan 120 peserta dan menghasilkan mean difference sebesar −6,99, dengan interval kepercayaan 95% antara −8,13 hingga −5,85.

Untuk IL-1β, analisis juga melibatkan 120 peserta dan menghasilkan mean difference sebesar −5,28, dengan interval kepercayaan 95% antara −6,91 hingga −3,65.

Sedangkan untuk IL-6, analisis melibatkan 180 peserta dan menghasilkan mean difference sebesar −8,61, dengan interval kepercayaan 95% antara −13,24 hingga −3,99. Ketiga hasil tersebut menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.

Namun, ada satu hal yang sangat penting.

Angka −6,99, −5,28, dan −8,61 bukan berarti peradangan turun sebesar 6,99%, 5,28%, atau 8,61%.

Angka tersebut merupakan mean difference, yaitu perbedaan rata-rata antara kelompok berdasarkan satuan pengukuran yang digunakan dalam penelitian.

Dengan kata lain, hasil penelitian harus dibaca sesuai konteksnya dan tidak boleh diubah menjadi klaim sederhana seperti “bekam menurunkan peradangan sekian persen”.

Mengapa Hasil Ini Menarik?

Karena penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tentang wet cupping dapat dikaji bukan hanya berdasarkan apa yang dirasakan seseorang setelah terapi.

Peneliti dapat melihat parameter biologis yang dapat diukur.

Ini membuka pertanyaan yang lebih menarik:

Apakah stimulasi mekanis pada kulit?

Apakah tekanan negatif dari bekam?

Apakah proses mikrolesi pada wet cupping?

Apakah keluarnya sejumlah darah?

Atau kombinasi dari beberapa mekanisme tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban yang sederhana.

Penelitian ini menunjukkan adanya perubahan pada beberapa biomarker, tetapi belum menjelaskan secara definitif mekanisme tunggal yang menyebabkan perubahan tersebut.

Tetapi Jangan Terburu-buru Mengatakan “Bekam Menyembuhkan Peradangan”

Inilah bagian yang sering hilang ketika sebuah penelitian ilmiah diterjemahkan menjadi konten media sosial.

Hasil penelitian memang menarik, tetapi bukan berarti bekam telah terbukti menyembuhkan seluruh penyakit yang berhubungan dengan peradangan.

Penulis systematic review tersebut secara jelas memberikan catatan bahwa kualitas bukti secara keseluruhan masih rendah dan terdapat masalah metodologis pada penelitian-penelitian yang dianalisis. Karena itu, hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Selain itu, hasil antarpenelitian tidak selalu seragam.

Pada analisis IL-6, misalnya, nilai heterogenitas mencapai I² = 81%. Heterogenitas yang tinggi menunjukkan bahwa hasil antarpenelitian cukup berbeda sehingga kita perlu berhati-hati ketika menarik kesimpulan umum.

Jadi, penelitian ini lebih tepat dipandang sebagai sinyal ilmiah yang menarik, bukan sebagai bukti final.

Lalu Apa Artinya bagi Terapi Holistik?

Dari sudut pandang terapi holistik, temuan seperti ini menarik karena mendorong kita melihat tubuh sebagai sebuah sistem yang saling berhubungan.

Bekam tidak seharusnya dipahami hanya sebagai proses “mengeluarkan darah”.

Secara fisiologis, wet cupping memberikan stimulasi pada kulit dan jaringan, menciptakan tekanan negatif, dan pada teknik tertentu melibatkan pengeluaran sejumlah darah.

Bagaimana tubuh merespons rangsangan tersebut merupakan pertanyaan biologis yang masih terus dipelajari.

Penelitian mengenai biomarker inflamasi memberikan salah satu potongan kecil dari puzzle tersebut.

Namun, kita perlu membedakan antara apa yang sudah diketahui, apa yang ditemukan dalam penelitian, dan apa yang masih menjadi hipotesis.

Itulah cara yang lebih sehat dalam memahami terapi komplementer.

Bekam dan Inflamasi: Sebuah Pertanyaan yang Belum Selesai

Penelitian tahun 2024 memberikan temuan menarik: pada pasien neurodermatitis dalam penelitian yang dianalisis, wet cupping berhubungan dengan perubahan beberapa biomarker inflamasi, termasuk TNF-α, IL-1β, dan IL-6.

Tetapi penelitian tersebut juga mengingatkan kita bahwa kualitas bukti masih rendah dan penelitian dengan metode yang lebih kuat masih diperlukan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Apakah bekam menyembuhkan peradangan?”

Melainkan:

“Apakah wet cupping dapat memengaruhi respons inflamasi tubuh, dan melalui mekanisme apa?”

Pertanyaan kedua jauh lebih menarik untuk diteliti.

Dan mungkin, penelitian berikutnya akan membantu kita memahami lebih jauh bagaimana tubuh merespons stimulasi bekam—bukan hanya berdasarkan apa yang kita rasakan setelah terapi, tetapi juga berdasarkan perubahan biologis yang dapat diukur.

Referensi

Zhai Y, Hui Y, Jiang Z, Ding L, Cheng J, Xing T, Zhai H, Zhang H. (2024). Efficacy and safety of wet cupping in the treatment of neurodermatitis: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Medicine, 11, 1478073. DOI: 10.3389/fmed.2024.1478073.

Artikel lengkap di PubMed

Full-text di Frontiers in Medicine



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *